Menjadi seorang pemimpin lebih sulit dari yang aku bayangkan. Bukan hanya
sekedar legalitas dan simbol dari sebuah organisasi. Bukan hanya sekedar
mengatur, melihat, dan turut bekerja didalamnya. Jika organisasi adalah barisan
orang-orang, maka pemimpin adalah orang yang ada diluar barisan itu. Mengatur
dan melihat dari luar barisan dan siap masuk kedalam barisan jika dibutuhkan. Dan
menjadi pemimpin pun harus tahu kemana organisasi dan orang-orang didalamnya
harus dibawa. Itulah pentingnya visi dan pemimpin itu haruslah visioner.
Orang bilang kampusku adalah kampus perjuangan, dua
tahun yang lalu aku tak mengerti mengapa orang menyebutnya begitu. Apa bedanya
dengan kampus lain? Orang bilang kampusku bayarannya mahal, gak ada bedanya
dengan kampus-kampus yang ada di jogja itu. Yang waktu mengisi formulir
pendaftaran saja sudah disodorkan form uang sumbangan kampus. Orang bilang
hidup di jakarta itu keras, biayanya besar. Orang bilang kampusku adalah kampus
yang mendidik para demonstran. Dan orang bilang kampusku hanyalah untuk
orang-orang berkantong tebal dan artis-artis. Lalu kenapa bisa disebut kampus
perjuangan dengan perkataan orang-orang itu.
Tak terasa sudah hampir menginjak semester 6 aku
menjadi bagian dari kampus ini. Banyak hal yang berubah dari diriku. Benar memang
perkataan orang bahwa tempat mencari jati diri adalah di kampus, dan berada di
kampus mana kita berada tentunya menentukan seperti apa kita akan terbentuk. Seperti
kata pepatah klasik kalau kita berteman dengan penjual minyak wangi mungkin
kita akan menjadi wangi, kalau kita berteman dengan perampok mungkin saja kita
akan menjadi perampok, kalau kita berteman dengan orang alim mungkin saja kita
bisa menjadi alim dan kalau kita berteman dengan orang pintar dan bersemangat
mungkin saja kita bisa menjadi pribadi yang pintar dan bersemangat. Kampusku adalah
kampus yang menurutku diisi oleh orang-orang hebat. Aku selalu yakin orang yang
masuk ke kampus ini pasti pernah menjadi orang hebat, banyak cerita yang sudah
aku dengar dari beberapa temanku tentang kisah perjuangan mereka masuk ke
kampus ini. Dari situlah aku bisa mengatakan orang yang masuk kampus ini pasti
pernah menjadi hebat.
Kalo kalian tanya bagaimana perjuangan kita bisa
masuk di kampus keren ini? Aku yakin semua orang akan sepakat bahwa untuk masuk
ke kampus ini perlu belajar dengan keras. Aku saja hanya tidur 4-5 jam sehari,
jangan sekali-kali kita bersantai ria kalau ingin masuk ke kampusku, karena
peminat kampusku ada di seluruh wilayah Indonesia. Ingatlah bahwa orang-orang
yang mendaftar banyak yang jauh lebih hebat dan pintar dari Anda, makanya Anda
perlu belajar ekstra keras untuk mengungguli saingan yang berasal dari seluruh
wilayah di Indonesia ini. Banyak temanku juga yang rela harus meninggalkan
Kebumen menuju Depok untuk mengikuti bimbingan belajar yang diadakan oleh
Perhimak (Perhimpunan Mahasiswa Kebumen). Kalau ayahku bilang ke anak-anak yang
ingin masuk UI “untuk bisa masuk UI kalian sebelum tidur harus baca buku dan bangun
tidur juga harus baca buku” karena katanya aku dulu seperti itu.
Mengingat kisah perjuangan hidup memang selalu
menarik sebagai bahan pembicaraan di malam hari yang terasa lebih indah karena
tak ada ujian maupun tugas. Pembicaraan seperti ini sudah sering sekali terjadi
di kosan kami. Banyak kisah inspiratif yang kami bagi terutama tentang
perjuangan masuk ke kampus Universitas Indonesia. Orang-orang yang masuk ke
Universitas Indonesia terutama yang berasal dari Kabupaten Kebumen biasanya
memiliki alasan dan motivasi yang sama. Alasan pertama yang membuat kita tertarik untuk menjadi mahasiswa UI
adalah masalah biaya. Jangan kalian pikir UI adalah kampus bagi mereka yang
berkantong tebal saja. Jika benar seperti itu, tentu kami saat ini tak akan
pernah mengenakan jaket kuning kebanggaan kami. Jaket kuning bagiku menjadi
jendela bagi kami saat ini. Aku masih ingat betulkapan pertama kalinya aku menuliskan UI
sebagai kampus impian. Semua berawal dari datangnya kakak-kakak berjaket kuning
ke sekolahku. Sebelumnya banyak sekali kakak-kakak datang dengan jaket
almamater dengan berbagai warna. Aku sendiri tak hafal warna yang menunjukkan
ciri khas masing-masing universitas itu. Namun, aku selalu ingat dengan
rombongan kakak berjaket kuning itu. Sebelum mereka datang entah tahu dari mana
kata ‘jaket kuning’ sudah tidak asing lagi di telinga. Dengan bangga mereka
menyerukan ‘We are the yellow jacket’.
Kedatangan mereka mengubah banyak sekali pikiran siswa SMA sepertiku kala itu.
Cara presentasi yang memukau, semangat untuk menyebar mimpi, hebat, solid, ketulusan,
kemandirian dan kejujuran. Itu kesan pertama aku melihat kakak berjaket kuning.
Dari mereka aku mulai mengenal satu nama yang sangat asing bagiku yaitu BOPB. What is BOPB? BOPB itu singkatan dari
Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan. Ada yang terasa aneh di dengar yaitu
kata berkeadilan. Apa yang disebut dengan Adil disini? Dengan bahasa sederhana
yang mudah dipahami mereka menyebut bahwa berkeadilan disini adalah adil sesuai
dengan kemampuan finansial penanggung biaya. Jadi kalau kita berasal dari
keluarga kaya dan berkecukupan tentunya biayanya akan lebih mahal dari orang
menengah kebawah. Semua biaya di UI sangat memperhatikan kaya dan miskin, bukan
untuk membedakan antara si kaya dan si miskin, tapi untuk memberikan pendidikan
untuk semua kalangan. Jadi jangan pernah bilang UI adalah kampusnya anak
pejabat, orang berduit, artis atau sebagainya. Justru di UI lah banyak
mimpi-mimpi anak yang bisa dikatakan tidak mungkin kuliah karena tidak ada
biaya atau hanya bisa kuliah kalau masuk STAN akhirnya bisa kuliah, justru di
UI lah kampus yang bisa menerima orang-orang dengan ketidakberdayaan ekonomi
dan memberikan pelayanan pendidikan sekelas luar negeri.
Ada satu kisah tentang perjuangan seorang teman
yang pada awalnya tidak mendapatkan keadilan biaya di UI dalam artian biaya
yang ditetapkan dari UI masih terlalu berat bagi keluarganya namun akhirnya
sekarang dia bisa melanjutkan pendidikannya di UI. Sebut saja namanya Mawar
(bukan nama sebenarnya). Mawar telah resmi diterima sebagai mahasiswa di UI
melalui jalur SNMPTN. Dia mengajukan BOPB sesuai dengan ketentuan yang ada. Pada
saat pengumuman penentuan besaran BOPB, mawar kaget karena besaran BOPB yang
dia dapatkan sangat tinggi, tidak sesuai dengan kemampuan orangtuanya. Dengan rincian
biaya semester 2,5 juta dan Uang Pangkal 7,5 juta. Artinya orangtuanya harus
membayar 10 juta untuk bisa memasukkan anaknya di UI. Pada saat itu orangtuanya
sangat keberatan untuk membayar uang sebesar itu karena kebetulan saat itu
keluarganya sedang dililit hutang akibat ditipu teman sekantor ayahnya. Mawar
sempat putus asa, bahkan dia sampai pulang ke kampung halaman di Kebumen setelah
satu minggu menjalani kuliah di UI karena sangat bingung. Beruntunglah karena
dia dan kami anak-anak Kebumen mempunyai keluarga seperjuangan di Depok bernama
Perhimak. Ketua Perhimak mengetahui kabar kepulangan mawar, dan dengan segera
Ketua Perhimak langsung menyusulnya ke Kebumen untuk meyakinkan bahwa semua
pasti ada solusinya dan membawa mawar kembali ke Depok. Bagiku itu adalah kisah
luar biasa. Kisah keluarga yang penuh ketulusan di tanah perantauan. Kita menjadi
keluarga hanya dengan hitungan hari meski tak pernah ada akad (menyontek kata
ketua BEM ku). Sang Ketua tentu menjadi orang yang bertanggung jawab karena
berani membawa kembali mawar ke Depok. Kisah selanjutya lebih mengharukan
ternyata mawar di Depok sudah ditunggu orang-orang petinggi organisasi di UI
seperti Ketua BEM UI dan jajaran staffnya yang siap untuk membela nasib
pendidikan seorang mahasiswi. Bayangkan sebegitu care-nya mereka, padahal mereka tak pernah mengenal mawar sebelumnya.
Namun apa yang terjadi, mereka siap membela meski harus berhadapan dengan para
birokrat kampus. Merinding aku mendengar cerita itu. Dan itulah ciri khas anak
UI, tidak pernah tinggal diam dengan segala bentuk ketidakadilan. Mungkin
itulah salah satu alasan mengapa UI disebut sebagai kampus perjuangan. Ketua
BEM UI dan petinggi organisasi ternyata tak mampu mengubah keadaan, tak mampu
menurunkan besaran biaya kuliah si mawar. Tak ada cara lain temui langsung Pak
Rektor! Itu sebuah tindakan heroik menurutku. Bagaimana seorang mahasiswa
menemui rektor hanya untuk menurunkan biaya kuliah. Seperti kita tahu sendiri
pak rektor sangat sulit ditemui. Namun, itulah perjuangan teman-teman. Si mawar
diajak oleh ketua Perhimak untuk menemui Pak Rektor. Sampai sekarang aku tidak
tahu bagaimana Ketua Perhimak itu bisa membuat janji dengan Pak Rektor. Sampai sekarang
saja aku belum pernah duduk bareng dengan Pak Rektor. Hebat sekali Sang Ketua
sampai bisa membuat janji dengan Pak Rektor, duduk bareng, dan bercerita
tentang nasib mahasiswi. Perjuangan yang luar biasa teman-teman. Dan akhirnya
permasalahan biaya pun sudah terselesaikan. Biaya si mawar akan dibantu dari
beasiswa yang diberikan oleh mahasiswa UI lain yang mendapatkan 2 beasiswa. Semua
ada jalan teman-teman jika kita mau berjuang.
Untuk masalah biaya aku sampai lupa untuk
menyampaikan ini. Sewaktu aku mengikuti Trining Motivation dari rangkaian acara
UI Goes to Kebumen ada seorang
pembicara, beliau salah satu orang penting jajaran rektorat di UI yang
mengatakan ” jangan pernah takut masuk UI, karena dengarkan dan ingat
baik-baik. UI tidak akan pernah mengeluarkan mahasiswanya karena masalah biaya!”
Hal itu tentu saja menjadi tambahan semangat bagi orang sepertiku, bagi orang
yang takut kuliah karena masalah uang.
Kembali ke alasan mengapa harus memilih UI. Alasan
Kedua bagiku dan teman-teman yang
sekarang sudah menjadi mahasiswa UI adalah karena di UI banyak sekali beasiswa
yang ditawarkan. Jangan pernah takut masuk UI karena biaya hidup di Jakarta
(padahal kita di Depok) tinggi, karena banyak sekali beasiswa yang bisa kita
dapatkan asalkan kita mau mencoba. Yang aku rasakan dan mungkin teman-teman
lain rasakan juga adalah kuliah di UI itu seperti belajar tapi dibayar, kalo
orang lain bekerja lalu dibayar kalo kita belajar lalu dibayar. Anak-anak
kebumen lainnya bahkan sampai bisa mengirimi uang ke orangtua untuk membantu
biaya sekolah adiknya. Ini kisah nyata teman-teman. Aku sendiri sekarang merasa
tidak lagi membebani orangtua dengan biaya. Asalkan di UI kalian aktif
mengajukan beasiswa, InsyaALLOH jalan mendapatkan rezeki semakin terbuka lebar.
Alasan ketiga
kenapa ingin masuk UI adalah karena
prestasi UI. Bukan menjadi rahasia umum kalau UI merupakan salah satu
Universitas terbaik di Indonesia, bahkan mengungguli peringkat Sorbone University
Perancis. Universitas yang mendadak tidak asing karena disebutkan di novel Laskar
Pelangi. Universitas dimana penulisnya yaitu Andrea Hirata melanjutkan studi S2
nya.
Jangan pernah takut masuk UI teman-teman, karena
UI adalah kampus rakyat dan UI adalah kampus perjuangan. Mari berjuang bersama
meraih cita-cita dan impian kita. Tidak ada yang bisa mengubah nasib kita
kecuali kita sendiri. Berusaha, berdoa dan jangan pernah takut untuk bermimpi,
apapun mimpimu.
Kamis 1 Desember 2011, aku rasa kita tidak akan pernah melupakan
hari dan tanggal bersejarah itu. Karena suatu jalinan persahabatan terbentuk
meski hanya dalam satu malam. Ternyata tak butuh waktu lama untuk mengenal
kalian, hanya butuh satu malam. Siapa lagi yang bisa menyatukan kita semua
kalau bukan Alloh? Dulu kita memang satu kelas semasa SMA, tapi pernahkah kita
saling berbagi mimpi seperti ini? Bahkan diantara kita ada yang belum pernah
bertemu sebelumnya. Namun, kita dengan mudahnya menyebut ini sahabat.
Kau datang seperti pasukan, kami menyebutnya
pasukan bintaro, ya karena kalian semua sekarang tinggal dan merajut mimpi di
Bintaro. Mereka adalah mba vika, yayan, ella, endah, dian dan yana. Awalnya aku
menyambut kalian karena kalian adalah teman lamaku di SMA, teman yang sudah
lama tidak bertemu. Di tengah kesibukan kuliah dan berbagai aktivitas kampusku,
aku masih tetap menyempatkan untuk menemani kalian berjalan-jalan menikmati
semua yang ada di kampusku, meski aku dengan mendadak harus meng-canceljadwal ngajarku di ILS.
Kamu sperti
pohon yang tumbuh subur di gurun pasir yang tandus dan gersang. Tidak ada yg
menyiraminya kcuali ALloh dengn hujannya..namun kini akupun menyadari, ternyata
kau bisa tumbuh subur dimanapun.. Kau hanya butuh untuk memilih mau ditempat
mana kau akan tumbuh. Kemudian kaupun dirawat, disiram setiap pagi dan tak lupa
diberi pupuk juga agar cepat berbuah, padahal tanpa disirampun kau akan tetap
bisa tumbuh, di gurun pasir yang sangat gersang sekalipun. Kau mungkin tak akan
memilih gurun pasir itu sebagai tempat tumbuhmu kelak, namun gurun pasir sangat
berharap akan ada pohon yang tumbuh. Agar panasnya mentari dan gersangnya pasir
akan hilang karena pohon itu yang meneduhkan dan menggemburkan. Hanya Alloh lah
yang akan membuat pohon memilih gurun pasir sebagai tempat tumbuhnya, karena
hanya Alloh pula yang membuat pohon bisa bertahan hidup di gurun pasir dengan
hujannya. Pohon seperti apa sebenarnya kau ini?
Tak terasa, kuliah berlalu dengan cepatnya. Saya pun masih sangat
ingat, bagaimana perjuangan dulu sewaktu SMA untuk medapatkan UI, masih
ingat saat dengan bangganya melihat pengumuman "Lulus" UMB, masih
ingat pula kesan pertama menginjakkan kaki di Depok, masih ingat bagaimana tak
mengertinya aku mempersiapkan barang-barang untuk kuliah di Depok. Kini, aku
sudah menjadi mahasiswa tingkat 3, ya mahasiswa semester 5 lebih tepatnya.. Aku
merasa 2 tahun ini berlalu bergitu cepat, kata abang fotografer Daas berarti
aku begitu menikmati masa-masa kuliah selama 2 tahun ini, soalnya kalo tidak
menikmati pasti akan terasa lama..... Masa sih??
Memasuki semester 5 berarti memasuki masa 2
tahun terakhir di kampus. Sudah tua lhooo ternyata... tapi masih berasa muda
aja nihh... Dua tahun ke depan adalah tantangan yang penuh rintangan. Magang,
dan skripsi menjadi makhluk baru yang cepat atau lambat akan menjadi kawanku di
semester 7 atau 8. Tapi oh tapi... untuk berkawan denganmu, aku perlu dari
sekarang mengenalmu, pede kate denganmu.. Para dosen seringkali bilang kalo
kita harus secepat mungkin berkenalan. Mereka bahkan memaksa kita untuk
berkenalan dari sekarang, menanyakan kelanjutan hubungan kita. Setiap minggunya
pasti selalu saja ada dosen yang memastikan apakah kita sudah cocok?? "
Tema skripsi kamu apa", begitu cara mereka menanyakan sejauh mana aku
mendekatimu, sejauh mana kita sudah saling mengenal, atau "mau magang
dimana?interestkamu dimana?". Semua
kata-kata itu sepertinya tengah menjadifavorite
quotesdi kalangan dosen,
kalo bertemu dengan kita.
Semua itu memang harus dipikirkan dari
sekarang, mereka hanya ingin membangunkan kita dari lamunan panjang yang kosong
ini. Dua tahun itu bukan waktu yang lama, jangan sampai kau tertidur karena
lamunanmu yang terlalu lama.. Sudah saatnya kita bangun. Mendalami keilmuan dan
kompetensi kita sebagai calon sarjana kesehatan masyarakat. Temukan dimana
minatmu. Kependudukan? kesehatan reproduksi?gizi? kesehatan lingkungan?penyakit
menular tidak menular?? dan bidang lain dalam lingkup kesmas. Temukan masalah
apa yang ingin kamu angkat? Lalu mulailah dengan menulis dan membaca banyak
buku dan jurnal... SEMANGAT!!!
Siang itu aku ingat sekali, aku mengikuti perkuliahan dengan tidak
fokus, berharap perkuliahan akan segera selesai. Aku harus menemui murid-murid
baruku, teman-teman kecilku yang akupun belum tahu seperti apa mereka. Hari itu
untuk kesekian kalinya aku harus menggunakan jatah bolos kuliahku karena program
I Love Science. Program kerjasama CSR Karya Salemba Empat dan CSR Bank OCBC
NISP. Program yang ditujukan untuk memberikan bimbingan belajar kepada
siswa-siswa SD kelas 2-6 yang berada di sekitar kantor Bank OCBC dan merupakan
anak-anak dari kalangan kurang mampu. Sebelum siap menjadi pengajar kami
sekitar 28 mahasiswa UI dan IPB penerima beasiswa Karya Salemba Empat sudah
mendapatkan berbagai macam training selama 2 minggu dari orang-orang hebat yang
berkecimpung di dunia pendidikan, mulai dariThe
Social Transformer"Yohanes
Surya", manusia cerdas yang pernah dimiliki Indonesia yang telah
mengantarkan anak-anak Indonesia menjadi juara di berbagai Olimpiade Sains
Internasional, lalu ada Guru Besar ITB I Gede Raka, Kuark Internasional dan I
Teach yang kesemuanya membuat kita harus bisa menjadiGreat Teacher.