Jika dulu kita
terkenal dengan adat ketimurannya, bagaimana dengan sekarang? Masihkah julukan
itu melekat untuk seluruh masyarakat Indonesia dari sabang sampai merauke? Tengoklah
Jakarta, preman dimana-mana. Kehidupan ibukota bahkan mengajarkan kita untuk
tidak mempercayai orang dengan mudah, apalagi dengan orang yang baru kita
jumpai di pinggir jalan. Bisa-bisa bukannya memberikan informasi yang benar,
malah justru nyasar kalo kita tanya alamat. Apalagi kalo nanya sama tukang ojek
yang ada harus naik ojeknya kalo mau tau alamat yang benar. Tak lagi murah
senyum, apalagi di Jakarta orang-orang seperti lupa caranya senyum. Apakah kita
(Jakarta, karena saya tidak mau menggeneralisasikan orang Indonesia) masih
beradat ketimuran?
![]() |
| cute child: "Sawadee Kha" |
Saya terkesan
ketika berkunjung ke Thailand. Berinteraksi dengan orang-orang sana. Santun,
dan sopan. Bahkan pada orang yang tidak dikenal mereka begitu menghormati dan
ramah. Pernah suatu hari salah satu diantara kami memakai baju batik,
tiba-tiba dipinggir jalan ada orang menyapa dengan bahasa Thai yang kalo
dibahasakan kayaknya memuji baju batik teman saya. Saya pun pernah bertanya pada
seorang tukang ojek dan dia memberikan kami petunjuk yang benar. Bagaimana dengan
di Indonesia? "Ya udah sini neng bapak anterin aja", "matre banget deh". Penjual-penjual disana juga sangat santun. Kebanyakan dari mereka
tidak lupa mengucapkan salam kepada pembeli dengan bahasa mereka “Sawadee Kha”
dan berterimakasih setelah selesai transaksi dengan “Kapun kha” (terima kasih). It’s very nice. Saya juga pernah membeli
souvenir di pasar Chatuchak yang harusnya 150 bhat tapi saya tawar 110 bhat,
tapi si penjual malah kasih saya 100 bhat.. hahahha. Saya tidak tahu ini
terjadi karena salah paham atau bagaimana..

.jpg)
